Hey again! Post gue sebelum ini selalu gue bilang “how sucks my
relationship is”. Sebenernya menurut gue kaya gitu si. Entahlah menurut
orang. Sebenernya ini semua berawal dari sekitar 6 bulanan lalu lah (wah lama
juga ya), gue kenalan etc etc etc, jogging bareng, then jalan bareng. Udah gitu
ajah. Sebenernya gitu ajah. Bahkan rencananya gue cuma nganggep dia sebagai
temen buat diajak nonton ajah. Karna, kayanya di kuliah ini gue agak “berbeda”
tastenya dengan orang-orang pada umumnya. Gue itu orangnya suka sesuatu-sesuatu
yang baru. Yang baru ajah. Kalo udah terkontaminasi sama pendapat-pendapat
jeleknya orang, yah jadi males juga nyobain. Jadilah gue mungkin cuma punya
beberapa temen yang khusus buat sesuatu-sesuatu yang baru. Pada saat itu, si “calon
boyf” itu statusnya seperti itu, karena dia orangnya ngikut ajah. Yah guenya
kolerik, dianya flegmatis, tau lah hasilnya kaya apa. (Buat yang ga tau apa itu
koleris, apa itu flegmatis, please read
more about ‘choleric, phlegmatic, sanguine, melancholy’-thingy).
Sebenernya, jalan pun ga terlalu sering. Like, maybe, twice
in a month? Or even worse, once in a month. Sampai-sampai-sampai 3 bulan lebih
lalu, gue mau nonton, gue suru dia milih film, dan itu failed bangettt. Dia
pilih film yg nggak bangettt. Hahahaha. One week later, gue ajak dia nonton
film yg lagi happening saat itu. Gue inget banget H-1 acara gitu (something for
the open recruitment program for my organization), gue ajak dia nonton itu.
Karna kebetulan, acara itu akan makan 2 hari (camping gitu), habis itu pulang,
gue langsung balik ke Jakarta (iya, gue perantau di kota tempat gue belajar
sekarang). Back to the topic, pas pulang dari nonton itu gue sama skali ga
mikir apa-apa. Cuma seneng aja udah nonton itu film. Sama skali ga mikir
apa-apa soal ‘calon boyf’ ini. Tiba-tiba, di motornya, the conversation went
like this:
“Eh, situ jomblo kan?”“Iye, hahaha, kenapa emang?” (mulai ga suka arah pembicaraannya)“Mau jadi pacar gue ga?”“Ha?” (kemudian kaya ada something yang meledak di badan gue)
Kemudian, disitulah saya merasa kematian sudah dekat. First
of all, 2 minggu sebelum kejadian ini nyokap gue wanti-wanti jangan berhubungan
terikat sama ini orang (my goodness…), darisitu gue mulai menjaga jarak. Sangat
menjaga jarak. Trus, dia itu orangnya kaku. Chat-chatan aja kaya interogasi
orang. Nanya mulu. Dia orangnya ngikut mulu. Padahal gue juga orangnya
sebenernya orang ikut-ikutan juga kalo lagi ga tau mau ngapain. Mati deh. Tapi
gue inget. Gue pernah bawa ini dalam doa gue, kalo gue akan iyain siapapun yg
nembak gue selama periode gue doa kaya gini (miris banget, sumpah, iya, gue
tau). Then, I said yes. Ohmygoodness.
Dan sekarang. Kriteria-kriteria yang ngebuat gue agak jaga
jarak sama dia dulu tetap ada sampai skarang. Kakunya, gaya-gaya interogasi orangnya, ga pekanya, ga ada effortnya, jadulnya, ga up-to-datenya, katronya. Semua-muanya. Sampai 3 bulan kita pacaran. Dan gue bete. Sangat. Sampai skarang. Ga berubah. Ga ada effort. Nyebelin. Sangat. Dan sampai skarang pun aku galau setengah pake mati. Gue cerita sama
temen-temen gue, baik di kota ini, dan yang di Jakarta. Gue cerita sama senior
gue. Yah pokoknya gue cerita sama orang yang gue biasanya ga pernah curhat tapi
kayanya nyaman buat curhat sama mereka. Semiris itulah gue. Dan alhasil,
tingkat kemirisan galau gue sampai pada tahap mau nelfon nyokap buat konsul
percintaan. Tapi untungnya gue ga ngelakuin hal itu karna ‘keliatannya’ gue
punya hal lain yang bisa gue kerjain selain itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar