Gue nulis di blog ini terakhir tentang jaman-jaman hoax-nya Jackie Chan meninggal, dan itu hampir 4 tahun yang lalu, ha ha ha -_-
Sebenernya si beberapa bulan terakhir ini gue udah bukan jadi tipe orang yang mencurahkan isi hati ke dunia maya karna satu dan lain hal, cuma ga tau kenapa gue lagi mau flashback ke dunia blog-blog ini, haha.
Mungkin untuk melancarkan flashback gue ini, gue akan nyeritain sesingkat-singkatnya dari gue berhenti buka blog sampai sekarang.
Yah, jadi pada intinya, pas pertengahan 2011 itu sampai 1 tahun ke depannya, gue naik ke kelas XII IPA di salah satu SMA di Jakarta. Dan masa-masa kelas XII itu adalah masa
Sekolah (baca: belajar) - nongkrong - jalan - ketawaketiwi - bimbel - ujian - les - menikmati indahnya hidup - tidur
Kesannya simpel, tapi sebenarnya.... Memang hanya sesimpel itulah hidupku.
Sebenarnya kalau mau dijabarin lagi, agak panjang yah... Selain kegiatan bersama teman yang gue bold tadi, yang bikin kehidupan SMA semakin bewarna adalah kita harus mikirin ujian-ujian, baik itu ulangan harian, try out, ujian semester, ujian akhir sekolah, ujian nasional, sampainya tes masuk perguruan tinggi dan ujian kehidupan. Tetapi hidupku indah bila kegiatan ujian-ujian ini diseimbangi dengan kegiatan bersama teman (hiuhiu), dan sayangnya karna gue itu termasuk orang yang sangat amat santai sekali, kegiatan ujian-ujian ini hanya berlalu begitu saja tanpa ada yang membekas di hati ini.......
Well, yang gue inget dari hingar-bingar ujian itu hanyalah saat tes masuk perguruan tinggi. Astaga kalau diingat-ingat lagi....biarpun ga belajar juga...tetep aja bikin deg-degan, karena:
1. Ini mempertaruhkan masa depan dan impian (hiks)
2. Ini juga mempertaruhkan nama baik keluarga (hiks-pret)
3. Soal ujiannya biasanya bikin shock dan akhirnya menyesal kenapa ga belajar sebelumnya...
Jadilah di awal kelas XII, gue berunding sama keluarga gue buat masuk jurusan apa dan univ apa. Seperti sebagian keluarga di Indonesia saat ini, mereka memilih untuk memasukkan anaknya yang polos (iya, harus banget diunderline polosnya) ini ke perguruan tinggi negeri dengan alasan, biaya yang murah, pendidikan yang baik, dan masa depan prospek kerja yang lebih cerah.
(Oya, anyway, sejak SMP, gue didorong-dorong buat jadi dokter, entah apa alasannya. Dan sayangnya, setelah gue mengikuti psikotes di kelas XI, TA-DA, pilihan pertama gue (tulisannya sih) "Pendidikan Dokter Umum", dan sejak saat itulah gue semakin didorong-dorong, dan yang didorong-dorong ini pun hatinya melembek.)
Alhasil, dengan alasan itu setujulah gue nyoba ke perguruan tinggi negeri, dengan syarat, karena hampir SEMUA temen gue berencana masuk ke swasta, gue juga mau swasta, dan diberi saran untuk mengikuti ujian masuk salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Kemudian, pas bulan Oktober (atau November yah?) 2011, gue pun ikut ujiannya. Diperhadapkan oleh bangunan universitas (dimana untuk pertama kalinya merasakan suasana kampus: "oh, gini lho orang kuliah", "oh, disini lho mereka duduk dan kuliah", "coba gue masuk sini", etc. etc. etc.), anak SMA lain yang juga mau daftar masuk univ itu, dan soal ujiannya (nangis darah). Dan... PENGUMUMAN: TIDAK LULUS.
Sejak saat itu, gue mulai tahu bagaimana diperhadapkan dengan dunia masa depan yang diawali dengan ujian masuk universitas...... Darisitulah gue mulai serius untuk belajar dan berusaha mendaftar lagi. Tapi sayangnya... orangtua tidak memperbolehkan lagi, mereka mau gue ambil SMPTN dulu (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri) (iya, dulu namanya itu, bukan SBMPTN kaya sekarang), baru bisa nyoba lagi yang swasta kalo yang negeri ga ada yang keterima. Ah.. Dunia......
Setelah banyak nongkrong - jalan - ketawaketiwi yang lain,..... H-1 ujian nasional Matematika, untuk pertama kalinya seorang saya belajar serius (ala-ala SMA sambil telponan dengan teman, conference-an, dan bahas soal). Agak terlambat sebenarnya.... TOLONG JANGAN IKUTI INI.
Blablabla.. Setelah lulus-lulusan dan lain sebagainya, muncullah masa kosong dimana kita libur 3 bulan (bener ga sih?) dan gue isi hanya dengan bimbel, bimbel, dan bimbel untuk menggantikan waktu sekolah gue. Alasan lainnya sih karena menurut gue (ga tau lho ya menurut yang lain), bimbel itu dapet banget suasana belajarnya, haha, yah selain itu juga karena gue kaya ga bisa banget belajar serius di rumah -_-
Dan saya kemudian dihadapkan dengan yang namanya SMPTN yang, oh-my-goodness, mempertaruhkan hidup dan matinya masa depan gue. Gue milih 2 pilihan, dua-duanya Pendidikan Dokter Umum di universitas yang berbeda (yaiyalah beda, yakali sama.), "sesuai apa kata Mama", well said.
Dannnn, keterimalah saya di pilihan kedua. Uwaw, saat dimana satu keluarga ngeliatin komputer, dan gue hanya duduk termangu dan keluarga gue udah jumpalitan kesenengan atau apa. Dan juga, setelah saat itu, otomatis orang tua gue ga bolehin lagi lah buat gue ambil swasta, jadilah gue ambil ujian mandiri negeri di 2 universitas, satu univ yang pilihan pertama SMPTN gue, satu lagi perguruan tinggi negeri yang emang (akhirnya setelah dilembek-lembekkan dengan berbagai macam cara) gue mau. Tapi sayangnya, ga keterima dua-duanya -_- Yah inilah namanya penolakan......
Yah, memang seperti takdir gue masuk ke univ yang tempat gue sekarang (ceritanya) belajar. Sebenernya gue bukan tipe orang yang percaya banget sama takdir. Tapi, yang gue percaya adalah dimana takdir itu adalah rencana Tuhan yang membawa kita ke masa depan yang lebih cerah.
Hihi, sekian pos pertama gue setelah sekian lama ga nge-pos. Tungguin lanjutannya yahh.
Anyway, semoga ini menjadi inspirasi bagi kita semua :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar