Selama aku liburan semester ini, ada 4 hal yang kulakuin untuk survive dari kebosanan: main, baca novel, jalan, surfing the web (?)
Dan sekarang, eik akan me-review salah satu novel yang sangat amat luar biasa kusuka:
Dan sekarang, eik akan me-review salah satu novel yang sangat amat luar biasa kusuka:
MARRIAGEABLE
Karya: Riri Sardjono
Dan untuk lebih mendalami, aku akan menulis review dalam gaya bahasa novel ini :)
Okay, Darling, jangan mikir kalau gue mau baca novel ini artinya gue mau married. Enggak, gue baca ini karena gue butuh novel untuk gue baca dan gue harus tau review orang dulu sama novel itu dan percaya kalo novel itu worth it buat gue beli dan baca (iya, karna gue udah sakit hati asal beli novel dan gue ga suka sama jalan ceritanya). Dan jadilah gue beli dan baca novel ini, and I like it so much.
Flory, single umur 32 tahun yang merasa berkewajiban untuk menikah karena her Mamz told her so, plus ketakutan menjadi perawan tua, dan jadilah dia dipertemukan dengan seorang Vadin. Vadin merasa nyaman dengan Flo dan melamar Flo. Setelah berbagai perdebatan yang muncul dalam kepala Flo, akhirnya Flo juga memutuskan menerima lamaran Vadin. Tapi seperti diduga Flo, bukan pernikahan namanya kalau hidup ga tambah sulit. Apalagi pas Nadya, mantan ala barbienya Vadin, muncul. Jealous sama Vadin yang tetap berhubungan baik dengan mantannya dengan alasan pekerjaan, Flory pun memilih membalas Vadin dengan permainan api yang bisa membakarnya balik…
Darling, reading this novel membuat kamu tersenyum sendiri dengan tingkah super konyolnya Flory yang enggak mau kalah dengan Vadin, dan gemas dengan Flory yang terlalu takut untuk mengakui cintanya karena trauma dengan mantannya Gilang plus orang tuanya Flory yang enggak terlalu akur. After all, Juliet, this book is a definitely funny and enjoyable reading.
Inti utama dalam novel ini ya tentang marriage. It’s your choice to marry or not, tapi sekali menikah ya terima risikonya. Kayak ketakutan bahwa suami akan selingkuh sama cewek mirip Barbie, istri yang teasing sama cowok lain just for fun, atau kenyataan bahwa tidur seranjang bukan solusi tepat untuk ngusir rasa sepi. Jadi yah, itu pilihan kamu mau nikah atau enggak, tapi terima risiko dalam menikah karena too bad, Darling, we don’t live in a fairy tale where happily ever after will always be the ending.
One of my favorite parts:
Tanpa disangka-sangka, Vadin menoleh ke arahku dan memergokiku yang sedang mengamatinya. Aku sedikit kelabakan ketika mata kami saling bertemu. “Jangan buang muka!” bentak Dina. “Liat dia terus, tapi jangan senyum. Bikin dia penasaran.”
“Buat apa?” tanyaku bingung tapi entah mengapa aku mengikuti saran ngawur Dina. Walaupun bibirku tidak tersenyum tapi hatiku berteriak senang manakala kulihat wajah Vadin yang terlihat sedikit kikuk.
“See?” kata Dina bangga. “Cinta bukan seni. Cinta adalah taktik dagang. Apa yang elo lakuin tadi adalah bagian dari advertising.”
“Murahan!” ejek Kika.
“Darling!” sentak Dina tersinggung. “Apa Louis Vuitton jadi murahan saat dia lagi sale?”
Kulirik kembali Vadin yang sudah berpindah ke meja bar. Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa segelas ice lemon tea. “Pesanan untuk Mbak Flory. Dari Mas yang itu, Mbak,” kata pelayan tersebut sambil menunjuk ke arah Vadin yang sedang duduk di meja bar. Vadin tersenyum kepadaku.
“Jualan lo laku, Juliet,” goda Dina tergelak.
“Ini ada suratnya, Mbak,” kata pelayan itu sambil menyorongkan selembar tisu yang terlipat.
“Surat?” tanyaku makin bingung. Terlihat tulisan tangan Vadin di tengah kertasnya.
Do you like what you see?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar